Rabu, 19 Maret 2014

Tahura + Monju + Cisangkuy + Pasteur + Jakarta = Rp.0,-

Selamat pagi Bandung!!

Kalian tau ikan salmon ga? Ituloh ikan yang sering ada di sushi yang tiap taunnya kembali ke hulu sungai menantang arus hanya untuk bertelur. Ikan Salmon akan lebih enak untuk dinikmati jika masih dalam keadaan hidup saat hendak diolah untuk disajikan, dibandingkan dengan ikan Salmon yg sudah diawetkan dengan es.

Itu sebabnya, nelayan Jepang selalu memasukkan Salmon tangkapannya ke suatu kolam buatan agar dalam perjalanan menuju daratan Salmon tersebut tetap hidup. Meski telah berusaha, pada kenyataannya banyak Salmon yang mati.

Bagaimana cara mereka menyiasatinya ?

Nelayan itu kemudian memasukkan seekor Hiu Kecil dikolam tersebut. Dan Ajaib ! Hiu kecil tersebut "memaksa" Salmon2 itu terus bergerak agar jangan sampai dimangsa. Akibatnya jumlah Salmon yg mati justru menjadi sangat sedikit !.

"Diam" membuat kita mati !

"Bergerak" membuat kita hidup !

Apa yg membuat kita diam ?

Saat tidak ada masalah dalam hidup & saat kita berada dalam zona nyaman. Situasi seperti itu kerap membuat kita terlena, begitu terlenanya sehingga kita tdk sadar bahwa kita telah mati !

Ironis bukan ?

Apa yg membuat kita bergerak ?

Masalah..Tekanan Hidup..dan Tekanan Kerja.

Saat masalah datang secara otomatis naluri kita membuat kita bergerak aktif dan berusaha mengatasi semua pergumulan hidup itu. Tidak hanya itu, kita menjadi kreatif dan potensi diri kitapun menjadi berkembang luar biasa.Ingatlah bahwa kita akan bisa belajar banyak dalam hidup ini bukan pada saat keadaan nyaman, tapi justru pada saat kita menghadapi badai hidup.

Itu sebabnya syukurilah "Hiu-Kecil" yang terus memaksa kita untuk bergerak dan tetap survive! Masalah hidup adalah baik, karena itulah yang membuat kita terus bergerak. Mungkin Hiu Kecil itu bisa berbentuk siapa dan apa saja dalam hidup kita.
 
 Dan buat gw, hiu kecil itu berbentuk sebuah petualangan..

Udara dingin yang menusuk hingga tulang membuat gw terbangun dari tidur. Ya, udara kota lautan asmara ini memang sedang dingin dinginnya saat musim hujan. Tapi hal itu tidak menghalangi gw untuk mandi dan bersiap menuju Tahura.



Apaan tuh Tahura?? Tahura adalah singkatan dari TAman HUtan RAya yang terletak di Dago Pakar Bandung. Disana gw mau jalan jalan menikmati udara segar dan melihat even lari yang diadakan oleh penyelenggara even lari. Plus memberi semangat kepada Paja yang ikut sebagai salah satu peserta.


Lagi lagi gw dianterin oleh Yudis menuju Tahura. Lumayan gratis lagi. Disana Yudis pami karena ada job yang menantinya. Jadilah gw, Selly dan Ejie yang maen di Tahura. Biaya masuk Tahura cuma 5ribu dan kamu bisa menikmati semua yang ada di dalamnya seperti roti gua jepang, gua belanda, prasasti thailand dan segarnya udara hutan.




Di deket pintu masuk terdapat peta lengkap posisi tempat tempat wisata disini. Wow ternyata ni hutan luaass betul. Objek pertama yang akan kita temui adalah prasasti Thailand. Entah gimana ceritanya kok bisa ada prasasti Thailand disini.


Dari kejauhan sayup sayup terdengar suara pengumuman peserta, kita penasaran ada apa sih? Setelah mengikuti arah suara ternyata even lari itu telah mencapai babak akhir. Sang MC membacakan peserta yang sedang berlari mendekati finish.

Semenit, 10 menit,15 menit sampe 30 Paja kok ga muncul muncul ya? Bosen nunggu si Paja ga muncul muncul kita lanjut jalan aja menuju goa Jepang yuk. Biar seru jalannya melawan arus jalur lari aja. Siapa tau ketemu Paja. Dan akhirnya bener, kita ngeliat Paja dari arah berlawanan. Niatnya sih mau poto dulu tapi karena Paja sedang lomba ya kamera jadi tetap berada di tas gw.





Tujuan berikutnya adalah goa jepang. Disini gw ga brani masuk karena sebelumnya udah nonton acara dunia lain yang menjelaskan makhluk apa aja yang ngendok disini. So, kita bertiga gada yang masuk ke dalem

Perjalanan dilanjutkan dan kita masih bertemu para pelari yang beragam, mulai dari oma oma, bapak bapak, anak anak dan mbak mbak keceh *ehem*. Kita terus berjalan sampai di goa belanda. Ga jauh beda sama goa jepang tadi, kita bertiga ga ada yang masuk. Tapi kayaknya Selly pengen banget masuk. Maap ya Sel.

jalur lari



Puas jalan jalan di Tahura, saatnya pergi dari sini dan menuju kolam renang di UPI untuk latihan freedive bersama teman teman bandung freedive. Eits tentu saja harus numpang dan gratisan. Gw dapet tebengan dari Selly sedangkan Ejie dapet tebengan dari kang Woto yang mau pulang ke rumahnya di Cilenyi dan mau muter 'dikit' buat anter kita. Uuyeeee..you rock kang!!!


4 jempol buat kang Woto

 Buat yang mau tau ngapain kita ke UPI?? KArena kita mau latian freedive sama tim Bandung FreeDive yang latihan rutin tiap minggu di kolam renang UPI. Ejie sih udah biasa jadi kenal, lag gw masih malu malu jadinya banyakan poto poto daripada renangnya.

sinkronisasi klo ga salah..keren parah nih!!

Duck dive..nyelem gaya bebek


Dari sini gw dan Selly misah dari Ejie. Kita ke Monju sedangkan Ejie tetep berenang. Di Monju gada acara lain selain poto poto dan poto. Spotnya ajib sih. Ga lupa jalan sedikit untuk menikmati segelas yoghurt Cisangkuy.



Hormaaat..grak!!

The legend never end..

Ga terasa udah malem aja. Gw dan Ejie janjian di pom bensin sebelum tol pasteur. Kabar baiknya adalah banyak mobil buat ditebengin ke Jakarta. Kabar buruknya adalah tulisan NUMPANG ternyata basah dan rusak. Jadilah kita minta kerdus di toserba pom bensin dan membuat tulisan NUMPANG darurat.


 So, we are ready to go home!!! Saatny mejeng di depan pom bensin dan berharap sedikit keberuntungan. Dan Allah mendengar doa kita. Ga sampe 15 menit mejeng ada mobil avanza silver ngasih sen dan mengklakson kita. Gapake lama, negoisasi dimulai. Ternyata dia mau puang ke menteng dan bersedia ngasih tumpangan sampe pancoran.

Namanya pak Karyadi, beliau kerja di pemda Sumsel yang tinggal di daerah Antapani. Mobilnya avanza silver D 909 OI. Tiap jumat malam dia pulang ke Bandung karena istri dan anaknya tinggal disitu. Sedangklan di Jakarta dia tinggal di mess kantor.


Dari ceritanya, dulunya doi seorang penjual baju di Tanah abang dan hidupnya berubah ketika lolos tes CPNS dan diangkat menjadi staff pemda Sumsel karena doi asli Makassar. Gw denger ceritanya sampe situ karena ga lama gw dah terlelap dan bangun bangun udah di Cawang. Saatnya bersiap untuk turun. Makasih ya pak!!

Jika lo berpikir disini petualangan kita berenti. Lo salah besar!! Disini segala lelah menghilang, berganti dengan debar yang menggelegar di dalam dada. Sepintas tanya berkelebat. Bisa ga ya kita numpang di ibukota?? Akhirnya demi memuaskan dahaga rasa kita memutuskan hitchhiking lagi. Pelajaran yang kita dapet adalah ternyata orang di ibukota lebih ga mudah percaya dengan sesama. Selama sejam kita mejeng orang orang yang lewat cuma ngeliatin dan senyum senyum.  Entah mereka bahagia, entah mereka iba.

Ada seorang pengendara motor berhenti dan ngasih kita duit. Katanya dia gabisa kasih tumpangan tapi ikhlas lillahi ta'ala ngebantu kita. Ejie sih gamau nrima, tapi gw selalu nerima rejeki kok.

Lumayaann..

Sejam mejeng akhirnya ada taxi Express berkode DJ 7168 dengan supir pak Suwadi. Katanya sih dia dah 3x lewat situ dan ngeliat kita masih ada jadi beliau kasian dan ngangkut kita sampe kp.rambutan gratis tisss. Beliau pada awalnya mau ngangkut klita pada percobaan pertama, tapi ada penumpang. Lalu dia muter untuk percobaan kedua, tapi lagi lagi ada penumpang. Nah baru di percobaan ketiga kita ketemu. Rejeki emang ga kemana kok.

Keasikan ngobrol ga kerasa udah sampe kp.rambutan. Disini kita harus berpisah. Ga cuma pisah sama pak Suwadi, tapi juga dengan Ejie, my partner in crime. Nah dari sini barulah gw ngongkos ke Depok dan cuma kena IDR 7rb kp.rambutan-rumah.

Jadiii..total pengeluaran gw untuk transportasi trip Depok-Bandung-Depok adalah IDR 7ribu sajah. Muahahahahahahaha. Pengen??? Yuk mulai packing dan ikut gw dan Ejie hitchhiking.

Syaratnya apa aja?? Gampang kok, syaratnya cuma 3 :
1. Ga boleh malu  dan manja
2. Ga boleh banyak nanya tujuan
 3. Bawa cemilan yang banyak, gw minta nanti.

Ayo terus berjalan kawan, menyusuri bumi dan menemukan keajaiban-keajaiban kecilnya, karena Tuhan menunjukkan banyak keindahan yang tak Ia tunjukkan pada mereka yang menghabiskan umurnya didapur dan tempat tidur.

NB : Ditengah  terjangan berbagai kabar buruk di negeri ini, gw sangat ingin memberikan sebuah cerita tentang indahnya negeri kita, cerita yang bisa membuat kalian (minimal) iri dan tersenyum. Cerita yang bisa membuat kita berkata : aku cinta Indonesia.. :)


Trip now, Think later..

Jumat, 28 Februari 2014

Kalau bisa gratis kenapa harus bayar??



Kawan, pernahkah kalian nyoba mempelajari hal baru dan merasa gagal? Kita harus sepakat bahwa dalam tiap hal pasti ada aja hal baru atau kesempatan pertama. Tapi taukah kalian bahwa kadang ketakutan kita terhadap hal baru kadang lebih besar daripada ukuran sebenernya. 

Sederhananya, kita sering ngerasa takut gagal hanya karena kita belum pernah nyoba atau melakukannya. Inget ga? Pada saat kita kecil, kita nyoba mainan baru seperti naik sepeda roda dua. Sebelum mahir kan kita pasti mengalami jatuh dan jatuh terus dan harus terus mencoba sampai pada suatu ketika kita bisa berteriak HORE!! untuk keberhasilan kita.

Namun tak sedikit dari kita yang memutuskan berhanti karena frustasi mengalami kegagalan terus menerus. Kalau udah sampai titik itu maka kita ga bakal pernah bisa mengendarai sepeda.

Hal yang sebaliknya adalah ketika kita terus nyoba walau harus jatuh dan lecet. Ya, belajar mengendarai sepeda itu seperti mempelajari hal lainnya dalam hidup. Kegagalan kadang datang bertubi tubi. Sampai sampai kita ga inget di percobaan ke berapa kita berhasil menguasainya. Ada yang inget kapan kita berhasil mengendarai sepeda??

Kata orang sih, cara tergampang  untuk melakukan sesuatu adalah dengan melakukannya (yaiayalah!!). Jadi judulnya adalah berani mencoba dan mencoba berani.

Nah tahun 2014 adalah tahun yang mengasyikkan buat gw. Gimana nggak? Di tahun ini gw diberi kesempetan untuk mencoba segala sesuatu yang ga pernah gw pikirkan dan gw lakukan sebelumnya. Mencoba keluar dari sebuah ruang hangat bernama zona nyaman. Dan seperti gw percaya bahwa Tuhan selalu cinta penjelajah bumiNya.


Pada sore hari itu gw sedang dalam perjalanan menuju pasar induk. Yap tujuan gw adalah Bandung dan gw udah bertekad ga akan mengeluarkan duit lebih dari IDR 15rb untuk transport sampe ke Bandung dan hingga kembali lagi ke Jakarta. Perjalanan kali ini gw bersama Ejie dan janjian bertemu di pasar induk. OK perjalanan dimulai.

Saat mau berangkat tiba tiba ada sms dari seorang temen Ejie bernama Wawan yang mau menitipkan kamera ke Ejie. Okelah kita ketemuan di Kelapa Dua. Setelah beberapa saat menunggu datanglah Wawan dan siapa sangka dia mau menawarkan mobilnya untuk ditumpangi ke pasar induk untuk memberi kejutan pada Ejie. Ini tumpangan pertama gw. IDR 0.



Akhirnya gw sampe di pasar induk. Disini kita ditemenin pak Seno yang bertugas sebagai penerima duit ketika ada mobil yang keluar dari pasar induk. Nah disinilah kita menunggu dan mencari mobil berplat D  tujuan Bandung. Ga peduli mobil pribadi , mobil bak maupun truk. Setelah menunggu beberapa saat akhirnya kita melihat sebuah mobil bak berplat D lewat. Ejie langsung sigap menyetop dan mendekati mobil itu. Negosiasipun dilakukan. Akhirnya diketahui si akang menuju Cilenyi dan kita boleh numpang sampe pintu tol terdekat dengan Pasteur.

Di bagian depan mobil bak D 8906 YO itu duduklah kita berempat. Kang Iwa tanpa K sebagai supir, Cecep sebagai co supir, Ejie sebagai makhluk tercantik di mobil ini dan Dude Herlino Gw. Ternyata kang Iwa tanpa K ini asik diajak ngobrol. Dia bercerita tentang kerjaanya sebagai supir sawi, derita gagal panen, tiap hari bolak balik jakarta-bandung buat anter sawi sampai detail harga jual sawi.

Ga kerasa 2 jam udah berlalu dan akhirnya kita sampai di belokan takdir. Lurus menuju Cilenyi dan ke kiri menuju Pasteur. Kita turun disini dan berfoto sejenak sambil berdoa ga ada polisi yang lewat karena memang ada larangan menurunkan penumpang di tol. Puas poto2 maka kita jalan menuju gerbang tol terdekat sambil berharap mendapat tumpangan lagi. Sampai sinipun pengeluaran gw masih IDR 0.


Akhirnya gerbang tol terlihat. Kita bisa keluar di situ....rencananya. Tetapi ternyata itu adalah gerbang tol BAROS..ia BAROS dan bukan PASTEUR..Fakkk!!! Ternyata pasteur masih 4 kilometer lagi!! Yawdah kita memutuskan keluar disana menghubungi temen di Bandung. Mereka awalnya sempet ga percaya ketika gw bilang lagi jalan di pinggir tol. Akhirnya mereka meutuskan jemput kita di gerbang tol Baros. Aaahh..rejeki anak soleh..

ini Ejie

ini Dude Herlino

15 menit..30 menit..45 menit...ini pada belum dateng juga. Poto poto udah, makan snack udah. Akhirnya Optimus Prime terpaksa di keluarin. Lalu kita asik poto poto lagi sampai 30 menit kedepan. Sampai Yudis dan Berta dateng layaknya pangeran berkuda besi yang menembus dinginnya udara malam kota yang pernah menjadi saksi panasnya kota lautan asmara ini.





Tujuan pertama adalah Braga. Disini Guntur, Seli, Haris dan Soca udah nunggu. Sayang kita gabisa ngobrol terlalu lama karena udah malem dan Braga akan dirajia. Oia disini selepas jam 12 malem maka akan ada rajia untuk mengurangi maraknya geng motor yang selalu meresahkan umat.

Setelah berjanji untuk kumpul lagi besok maka gw menuju rumah Yudis untuk nginep dan Ejie ke rumah Seli. Sampai sini tetep pengeluaran gw IDR 0 dan besok kita akan main ke Tahura. Tahura?? Ngapain kita maen ke Tahura?? Jangan kemanamana karena cerita akan gw lanjutin di episode besok.

Trip Hitchhike now, Think later.

Jumat, 24 Januari 2014

Berani mencoba, mencoba berani..



Tuhan cinta backpacker. Gw dan banyak pembawa tas punggung lainnya percaya itu, bahwa Tuhan selalu cinta pada mereka yang menempuh perjalanan, dan bahwa para penyusur bumi ini dari penakluk gunung tinggi sampai penjelajah bawah laut banyak dinaungi keberuntungan.

Sebagai backpacker pemula nan amatir, gw punya banyak cerita-cerita kecil yang menurut gw menakjubkan, yang pasti takkan gw dapat jika misalnya gw menghabiskan hari libur gw dengan menonton tivi seharian. Kawan, menonton tivi terlalu lama itu menghapus keberuntungan-keberuntungan kita untuk mendapati keajaiban-keajaiban kecil diluar sana.

Gw lebih suka menyebutnya rejeki anak soleh. Kenapa anak soleh? Karena gw ngerasa saat gw travelling maka pola hidup gw jauh lebih baik. Gw Insya Allah solat (lebih) tepat waktu dan makan (selalu) tepat waktu. #tsaah

Tapi teori ini bukan tanpa alasan. Biasanya seseorang akan lebih dekat dengan Tuhannya ketika sedang berada jauh diluar zona aman dan nyamannya. Terutama jika berada di dalam bahaya.


Salah satunya adalah ketika gw memutuskan untuk melangkahkan kaki ini kembali ke baduy. Dan Tuhan membalas lelah ini dengan memberikan keluarga baru. Keluarga yang selalu berbagi di saat susah dan senang. Keluarga yang memberi lebih dari sekedar kehangatan di tengah dinginnya malam desa Cibeo. Keluarga yang membuat langkah dan beban terasa ringan. Emm..sebenernya yang bikin ringan sih karena adanya porter sih.

Dan keluarga itu pula yang mengiringi perjalanan gw dalam proses pendewasaan dan pembelajaran diri. Belajar bahwa banyak hal yang bisa kita pelajari yang ga kita dapat dari ruang 3x4 meter yang dipenuhi deretan meja dan kursi. Bahwa banyak hal yang kita bisa pelajari dari senyum, tawa, dan cerita orang sekitar kita. Baik itu penduduk lokal, guide kita bahkan travelmate kita.

Ketika kecil gw gw punya cita cita. Seperti layaknya semua anak kecil di jaman gw kecil, maka mengisi diary teman adalah hal yang wajib. Disitu biasanya ada kolom cita cita. Cita cita gw sederhana. Gw mau jadi tukang burger. Alasannya ada dua. Satu, agar ketika gw laper gw tinggal makan gratis. Dua, agar bisa menarik perhatian gadis manis penggila burger yang duduk di depan kursi gw.  *uhuk*

Cita cita lain gw adalah bisa menjadi Ksatria Baja Hitam seperti gambar diatas. Kenapa? Karena di tiap episode hidupnya ada aja petualangan yang dilakukan. Klo enggak menumpas monster ya berantem sama Bayangan Hitam atau Gorgom. Dan menurut gw itu menakjubkan dan penuh dengan keajaiban. Gw rasa gw hanya satu dari sekian ribu anak kecil yang memimpikan mimpi yang sama.

Lambat laun ketika sang waktu terus mendewasakan dan mengubah pribadi gw, tapi tidak dengan mimpi itu. Di SMP gw memanfaatkan kemalasan temen temen kelas gw untuk jalan ke kantin dan membuka jasa 'penitipan jajan'.

Jadi gini, tiap anak anak tajir yang males jalan bisa nitip ke gw dengan imbalan harga 1 bakwan (sekitar IDR 300). Dan di kelas gw ga hanya 1-2 orang yang pemalas, tapi bisa 8-10 orang dan tiap orang bisa pesen 2-3 bakwan. Karena gw sering beli dalam partai besar maka si ibu kantin sering memberi diskon IDR 50 tiap bakwan. Dari situ akhirnya gw bisa beli trek Tamiya sendiri. Dan tiap anak yang mau maen harus bayar IDR 1000.*otak dagang*

10 Tahun berlalu. Mimpi gw masih sama, ingin membuka usaha sendiri. Bokap pernah ngajarin sebaik baiknya manusia adalah yang berguna bagi yang lain. Nah, berdasarkan hal itu dan berdasarkan fakta bahwa gw pemalas maka gw...eh, kok malah bahas tentang gw sih??

Kembali ke topik semula. Jadi keajaiban itu kadang ga datang dengan sendirinya sob! Tetapi keajaiban itu akan terasa berkali lipat nikmatnya ketika kita harus keluar dari zona nyaman kita dan berjalan serta menyaksikan sendiri kejaiban itu terjadi. Percaya deh Tuhan itu punya cara yang unik dan ga kita duga untuk menunjukan keajaibannya. Ga pernah kurang, ga pernah lebih, tapi pas.


Buat gw, taun 2013 adalah tahun yang luar biasa. Di tahun ini gw diberi kesehatan jiwa, raga dan dompet untuk menjelajahi bumiNya. Di tahun ini gw bisa mengunjungi toraja, makassar, manado, gorontalo, togean, ampana, poso, medan, toba, banda aceh, weh, kuta, bima, bajo, komodo, kelimutu, pacitan, trowulan, malang, surabaya, pahawang, Jakarta Treasure Track 1 dan 2, krakatau, bandar lampung, jogjakarta..dan ditutup dengan hitchhikeran ke gunung parang di taun baru.

Di taun ini pula gw bisa merasakan nikmatnya kapal penjara Tilongkabila (KALIAN HARUS COBA NAIK!!!), dinginnya lantai peron stasiun, sunyinya hutan di Weh, horornya kamar di Samosir, ribetnya bikin event Jakarta Treasure Track dan harunya mengurangi jatah hidup di Panti asuhan Titian Ilmu (ah betapa gw kangen kalian).

Tapi tentu saja itu semua bukan tanpa pengorbanan. Ketika kita ingin keluar dari zona nyaman kita. Sistem otak kita yang bernama Amygdala akan memerintahkan kita untuk tetap di zona nyaman. Kita akan dibuat resah akan bayangan jika gagal, jika ga berhasil, jika ga sesuai harapan dan jika jika yang lain. Tapi hey, bukankah hidup sendiri penuh dengan resiko?? Tau darimana kita akan gagal jika mencoba saja kita ga mau?? Kita ga akan tau sebelum kita mencoba.



Bahkan Thomas Alpha Edison saja harus mengalami ratusan kegagalan sebelum menemukan bohlam. J.K Rowling harus mengalami puluhan penolakan naskah sebelum ada penerbit yang mau menerbitkan Harry Potter. Nah klo travelling itu kita ga harus mencoba puluhan kali kok. Cukup punya kaki yang akan melangkah lebih jauh dan tekad yang lebih kuat dari baja.

Percaya deh, dari pengalaman yang ada temen temen selalu nanya ada trip kemana besok. Tapi giliran diajakin pasti ada aja alesannya. 'Sorry ada kerjaan kantor'. 'Sorry mau anter pacar ke dokter kandungan'. 'Sorry nenek gw lahiran'. Dan banyak lagi alesan lainnya. Tapi kebanyakan mereka gabisa ninggalin kerjaannya. Hello!!! You can always make money, but you can not always make a memory guys!!

Udah ah kayaknya udah kebanyakan..Yang ingin gw katakan adalah jangan pernah takut untuk bermimpi dan mencaoba karena dengan mencoba maka lo telah membuka  1 jalan yang akan menuntun lo menuju jalan jalan lain dan Tuhan akan menuntun lo dengan caranya yang 'ajaib'.

Trip now, Think later


Jumat, 28 Juni 2013

Baduy, BAhagia itu seDerhana eUY!!



Hari itu, sabtu 15 Juni 2013, kaki kami berayun selangkah demi selangkah. Sekali tapak,kaki kanan maju berganti kaki kiri. Lima jam berlalu, nafas kami mulai tersendat-sendat, gelap mulai meliputi desa Cibeo. Anak-anak dan para pemuda tanpa beralaskan kaki pulang dari ladang.

Setelah 1,5 kilo berjalan dari diperbatasan baduy luar-dalam, kami mulai melihat sederetan lumbung-lumbung padi dengan bentuk dan ukuran yang sama. Nampak beberapa Saung diujung ladang tempat istirahat petani. Suara jangkrik mulai terdengar. Riak air melantunkan suara alam. Pepohonan tinggi yang hijau terang itu mulai menggelap.

Sinar mentari mulai bersembunyi, berganti dengan gemuruh suara petir menandakan sang hujan akan turun bercumbu dengan bumi. Jalanan berbatu yang disusun rapi mengantarkan kami memasuki perkampungan. Beberapa ekor ayam menyambut kami, yak disini ga ada sapi, kambing maupun kerbau, karena ternak berkaki empat tidak diperbolehkan bagi suku baduy.

Pakaian penduduknya sederhana, hanya ada hitam atau putih. Seperti kehidupan mereka semua hanya tentang hitam dan putih. Tidak seperti kita yang penuh warna warni.  Mereka hidup dalam kepolosan dan kesederhanaan.

Kenapa pakaian harus berwarna hitam atau putih?”, Tanya ke Sapri.

Karena memang begitu aturannya”, ujarnya.

Baydewai siapa tuh Sapri?? Kami memanggilnya Sapri. Pemandu sekaligus tuan rumah kami. Pria 22 tahun dengan wajah dan perawakannya yang lebih muda dari usianya. Malah mirip artis menurut temen teman gw. Nama aslinya pun Sapri, (menurut lo??)  Kakinya pendek, keras, melebar,  betisnya besar dan berotot, mirip bangsa Hobbit dalam Lord of the Ring. Belum nonton?? Kesian deh lo. Rambutnya pendek, kepala diikat kain putih. Kulitnya sawo matang, ramah, banyak bicara dan gaol abisss!!! Doi tau starbak, EX dan beberapa tempat yang bahkan gw sebagai warga Jakarta pun ga pernah masukin. Bahkan ungkapan khas ibukota seperti 'mau tau banget' dan ' kepo' pun dia tau. G4h0L banget ga sih.


Ini Sapri..itu adknya Sapri..
Tiga puluh enam jam gw berhasil menikmati detik demi detik, menit dan jam dalam keterkesimaan yang membuat gw ga tergoda memainkan hape. Menikmati waktu dengan mengobrol dan melihat alam dan kesederhanaan manusia. Gw belajar bahwa kita ga bakal mati hanya karena ga ada listrik, kendaraan, dan teknologi. Dan kita ga berarti kagak bahagia tanpa wanita handphone, facebook, twitter dan alat kapitalis lainnya.

*** (memasuki waktu dilarang foto) ***

Pagi.. awal dari sebagian besar makhluk hidup diseluruh penjuru dunia … Hari itu gw seperti memasuki sebuah kapsul waktu yang menembus beberapa abad lampau. Sama halnya disini, dibawah cahaya bulan purnama yang ditutupi serpihan awan hitam di antara jejeran rumah berbambu, kami menghirup aroma tumbuhan pagi disekitar kampung yang rumahnya saling berdempetan.

Sebuah desa bernama Cibeo, populasi (sekitar) 450 jiwa termasuk anak-anak dan mayoritas anaknya cowok.  Desa lainnya yang termasuk dalam Baduy Dalam yaitu Cikertawana dan Cikeusik. Mereka bermukim tepat di kaki pegunungan Kendeng, Kabupaten Lebak-Rangkasbitung, Banten. Pegunungan ini merupakan satu kesatuan yang berkepala di Ujung Kulon dan berekor di Jawa timur. Berada diketinggian 500 mdpl, desa ini cukup dingin dan sejuk. Sedingin hatimu saat itu. *uhuk*

Pagi itu, anak anak baduy mulai berkumpul di sebrang rumah tempat gw nginep. Sekumpulan bocah usia 4-8 tahun berkumpul mengelilingi siduru. Semacam panci yang dimasak diatas tungku kayu bakaran untuk menghangatkan badan. Berikat kepala warna putih, bersarung gelap garis vertikal, dan berbaju putih. Mereka asyik bersenda gurau, wajahnya hampir mirip semua, putih, bulat, pesek, persis seperti orang Baduy Dalam.

Mereka saling berceloteh dan sesekali melihat kami dengan heran, kemudian tertawa sebentar. Beberapa bocah lainnya duduk berdekatan, mereka saling diam, tidak bicara, hanya memperhatikan  orang dewasa bicara atau tersenyum malu-malu melihat kami “orang kota” yang mungkin aneh bagi mereka. Gw cuman terkesima mengamati mereka. Perhatiin deh, ga ada wajah lelah mereka, ga ada wajah kecewa, ga ada marah atau bahagia yang berlebih. Ga seperti orang kota yang pada jam jam segitu pada hari kerja seakan lupa bahwa kita pernah upacara dibawah bendera yang sama.

Perjalanan menuju Baduy Luar sampai ke Baduy Dalam menempuh jarak 12km. Tapi jangan anggap tanahnya flat dan beraspal, kami harus melawati kurang lebih 7 bukit dalam  waktu 4-5 jam. Kalau orang baduy sendiri cukup 1,5-2 jam saja. Treknya ga pernah rata. Selalu naik turun seperti kehidupan.

Oiya, sebutan “baduy” memang diberikan oleh penduduk luar kepada kelompok masyarakat ini. Dulu para peneliti Belanda menyamakan istilah Arab Badawi yang hidupnya berpindah-pindah serta karena terdapat sungai dan gunung Baduy  disekitar situ. Mereka sendiri lebih suka dipanggil “urang Kanekes” atau “urang Cibeo”, sesuai nama kampung mereka.

Mungkin banyak orang menyayangkan kehidupan orang Baduy yang tidak mengijinkan anak anak mereka sekolah. Terlepas dari itu semua, menurut gw hidup mereka jauh lebih layak dibanding orang orang terlantar dikota. Disini mereka sangat diperlengkapi oleh alam. Air, tumbuhan, hewan, ladang, rumah bambu dan segalanya tercukupi. Bahkan kebahagiaan pun didapatkan dengan hidup tenang di tempat pengasingan seperti itu. Bukankah sekolah mereka dengan belajar dari sumber ilmu yang sesungguhnya yaitu alam dan segala isinya. Bukan hanya dari ruang kecil berukuran 7x7 meter lengkap dengan kursi, meja dan papan tulisnya.

Satu hal yang melekat otak gw ketika pertama kali adalah menanyakan hal mengapa orang baduy ga mau sekolah?? Kenapa sekolah itu mahal?? kenapa BBM naik?? KENAPA???

Dan jawaban si Sapri atas pertanyaan pertama gw sangat menusuk hati nurani gw.

Karena kalau orang jadi pintar bisa berbuat jahat”, jawab Sapri. Alasan itu pulalah yang membuat Sapri bahagia di tengah ke-anti modern-annya. Bahwa segala teknologi dan kepintaran bisa menggoda manusia untuk merasa berkuasa. Baik terhadap sesama manusia atau terhadap semesta.

Rumah mereka pun sederhana. Hanya potongan kayu yang diikat satu sama lain menggunakan kulit kayu. Beratapkan daun kelapa dan berlantaikan tikar dari kayu. Mereka memasak menggunakan kayu bakar dan minyak sayur. Tak ada hiasan menempel di dinding rumah mereka. Mungkin God Bless sedang berada disini saat menciptakan lagu "Rumah Kita". Dimana hanya bilik bambu yang menjadi tempat tinggal kita, tanpa hiasan dan tanpa lukisan.

Pagi-pagi perempuan Baduy pergi ke ladang, anak-anak bayi berusia 1 tahunpun sudah mulai diajar berjalan kaki tanpa alas ke ladang. Penghasilan utama mereka sebenernya bukan dari ladang, kalau hasil panen berlebihan baru mereka jual seperti buah aren, pisang, ubi, singkong dan madu (Madu Baduy ajib bener, jangan sampe ga beli ya kalo kesana). Banyak perempuan juga menjual kerajinan dan kain tenun , bagi para pria dan anak laki-laki bonus jadi porter dan guide juga cukup lumayan.

Sistem pertaniannya dengan padi gogo, alurnya juga ladang berpindah. Sekitar 2-5 tahun mereka harus meninggalkan ladang agar dihutankan kembali.  Sungguh-sungguh komunitas yang sangat konsisten dengan tradisinya.

Orang baduy hidup dengan aturan yang cukup kuat. Mereka sangat kuat memegang tradisi nenek moyang. Mulai dari lahir hingga mati, semua sudah ada aturan, dengan kata lain segala sesuatunya bukan pilihan kita. Bukan karena mereka tidak berhak memiliki pilihan, tetapi memang pilihan mereka untuk diatur. Jika tidak mau diatur, konsekwensinya  akan dikeluarkan menjadi orang baduy luar. Dan itu -buat orang Baduy Dalam- sangat menyakitkan menyakitkan buat mereka.

kami tidak boleh pakai alas kaki, tidak boleh naik kendaraan, tidak boleh pakai piring dan gelas modern, tidak boleh ambil air pakai ember, tidak boleh mandi dengan sabun dan shampoo kimia, tidak boleh juga bersentuhan dengan teknologi,” kata Sapri.

Semula pria yang sudah pernah jalan kaki ke Bekasi dalam waktu tiga hari ini tidak banyak bicara, namun setelah kami selalu mengajaknya ngobrol, nampaknya dia mulai terbiasa dengan banyaknya pertanyaan kami. Apalagi grup kami ada  Acong 1 dan Acong 2 (sebut saja demikian) yang sepanjang 4 jam ga pernah berhenti berbicara.

Setiap orang baduy, ketika bayi jodoh mereka sudah ditetapkan. Ketika usianya sudah mencapai lebih dari 12 tahun, mereka mulai dipersiapkan menuju pernikahan”, lanjutnya.

Karena jumlah penduduk suku tersebut tidak banyak, mereka memperbolehkan pernikahan antar sepupu yang disebut Misan, yang tidak diperbolehkan hanya menikah dengan saudara sekandung.  Ketika sudah menikah, orang tua wajib memberikan minimal satu leuit atau lumbung padi. Syaratnya pun mudah, sang pria cuma disuruh bekerja di ladang sang keluarga wanita dan begitu pula sebaliknya. Yang kedua adalah sang pria harus sudah bekerja dan mempunyai penghasilan sendiri.

Satu lagi, jangan coba coba meminum air campuran daun kastulang yang memberi efek menguatkan stamina dan menyehatkan tubuh ketika bertamu ke Baduy dalam. Rasa airnya mirip campuran cincau dan madu. Ketagihan ga ditanggung.

** (keluar dari wilayah tanpa teknologi) ***

Salah satu spot menarik di Baduy adalah jembatan akar dan jembatan gantung. Jembatan akar yaitu sebuah jembatan yang dililit dan diperkuat oleh akar. Sedangkan gantung  itu ya jembatan yang digantung  *dikeplak*. Bahkan dalam membangun jembatan pun masyarakat Baduy punya aturan sendiri, yaitu pengerjaan jembatan harus selesai dalam sehari. Jika sehari ga selesai maka jembatan akan dibongkar dan dibangun lagi keesokan harinya.



Buat sampai ke jembatan akar  kita harus sedikit jauh memutar melewati tebing dan jalanan yang lagi lagi mendaki dan menurun. Dengan tambahan tebing dan jurang di kanan dan kiri.








*UHUK!!*

Nah kabar buruknya adalah untuk mencapai Baduy Dalam kita harus berjalan sekitar 5 jam dengan kontur bumi yang naik turun. Maksud gw naik turun disini adalah beneran mendaki dan menurunin bukit. Di baduy Dalam kita gabisa hidup seperti di kota dan gaboleh menggunakan listrik.

Untuk buang air aja kita harus jalan sekitar 500m menyebrangi sungai untuk mendapat sumber air yang mengalir. Kalo siang sih ga masalah, yang jadi masalah adalah ketika lo mau berak tengah malem dan gada temen yang mau nganterin. Siap siap diketawain yang di atas pohon.

Jikasemua rintangan itu belum menciutkan nyali kalian, berdoalah agar disana ujan saat perjalanan ke Baduy Dalam. Kombinasi trek tanah, mendaki, menurun dan hujan adalah formasi sempurna untuk enurunkan berat badan. Seperti yang temen gw Lestya Juniata alamin. Wanita setengah kurus cenderung gendut gemuk ini berhasil membawa ransel berat menembus jalur hujan sepanjang  12km. Tepuk tangan buat dia.

Tanjakan + hujan = cakeepp!!

Atau temen gw satu lagi, sebut saja namanya Aing. Karena dia dengan pinternya bawa baju dan celana panjang cuma satu -itupun Jeans- dan huhujana akhirnya saat pulang dia harus berlari kayak maling ayam ke depan rombongan dan mencari spot panas untuk menjemur kaos dan celananya sambil menunggu rombongan terakhir lewat.


Lapak Aing, kumaha Aing..
Karena kita mengunjungi jembatan akar saat pulang maka kita akan melewati peradaban sebelum mencapai Ciboleger -desa terakhir sebelum Baduy Luar- yang berarti ada listrik, sinyal hape dan kendaraan. Dengan konsekwensi harus berhadapan dengan terik matahari karena jalanan aspal dan ga ada pohon rindang.

Positipnya kita bisa hitchhiking ke mobil yang lewat. Dan mobil yang beruntung kita naikin adalah sebuah truk kayu. Yippie..Jadilah tim depan nebeng truk kayu sampe ciboleger.

Asli ini panas..ga bo'ong!!

Up!! Up!!

Lucky us..

Akhirnya...

Ada yang bilang bahwa kenyamanan bagaikan jalanan datar, tapi hidup memang naik dan turun. Maka bersahabatlah dengan jalanan naik dan turun. Seringkali kita menjalani hidup dengan tergesa-gesa sehingga melewatkan bagian-bagian yang menyenangkan dari sebuah perjalanan. Sejenak kita perlu berdiam diri, menikmati apa yang kita lihat didepan mata, mendengarkan suara  dan nyanyian alam, mencium bebauan tumbuhan, dan menyentuh segala sesuatu yang baru.

Setiap kaki yang diayun dan bergerak maju berarti meninggalkan masa lalu. Hempaskan langkah sebelumnya.  Gantilah dengan jejak baru. Kebahagiaan baru menunggu dalam setiap nafas dan yakinlah bahwa akan ada kekuatan baru untuk mengisi langkah-langkah berikutnya.

Perjalanan seperti ini mengantarkan gw pada pengalaman baru. Mungkin dulu di kepulauan Togean, Celebes pernah mengalami pengalaman yang sama. Namun disana didesa terpencil sekalipun, gelombang teknologi dan modernitas tak bisa dibendung.

Sedangkan disini, baduy dalam, yang hanya berjarak beberapa ratus kilo meter dari Metropolitan Jakarta, mereka masih memegang teguh tradisi dan filosofi hidup yang sejatinya menurut kacamata mereka.

Masih ingat lagunya Katon Bagaskara berjudul negeri di Awan?? Sebuah tempat dimana kedamaian menjadi istana. Memang bukan mengacu pada tempatnya, tetapi dimanapun manusia memilih untuk damai, maka disitulah diraih kedamaian.

Ayo terus berjalan kawan, menyusuri bumi dan menemukan keajaiban-keajaiban kecilnya, karena Tuhan menunjukkan banyak keindahan yang tak Ia tunjukkan pada mereka yang menghabiskan umurnya didapur dan tempat tidur.

NB : Ditengah  terjangan berbagai kabar buruk di negeri ini, gw sangat ingin memberikan sebuah cerita tentang indahnya negeri kita, cerita yang bisa membuat kalian (minimal) iri dan tersenyum. Cerita yang bisa membuat kita berkata : aku cinta Indonesia.. :)


Trip now, Think later..



Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...